Rabu, 14 Desember 2011
Ujian Semester Pertama
Ini hari ketiga aku ujian. Hari pertama ujian mata pelajaran Math. Hari kedua ujian mata pelajaran Nationality dan Bahasa. Hari ini, ujian English dan Religion. Mudah-mudahan aku bisa ya. Karena sebelum kelas ujian dimulai, orang tua yang ikut kelas berdoa bersama, memberikan the word magic alias kata-kata ajaib.
Seperti kemarin, meski ketika pagi-pagi mama agak mengomel karena aku malas bangun, tapi di kelas mama mengucapkan kata-kata yang memberiku kekuatan. "Hia pasti bisa," kata mama. Aku mengangguk ketika itu, dan yakin aku bisa..
It worked! nilaiku lumayan bagus, boleh dikata cukup tinggi jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Bahkan kata mama, para mama lain tadi pagi kasih komen, kalau aku yang paling tenang ketika ujian kemarin. Soalnya, para mama yang lain menunggui anak-anaknya. Karena mama harus segera ke kantor, mama tidak bisa lama-lama di sekolah. Kadang-kadang sedih juga tidak ada mama atau papa. Tapi syukurnya, kalau pas kelas karakter, jika mama tidak bisa hadir, pasti papa yang akan menggantikan.
Besok, aku ujian Science. Pelajaran yang sangat kusukai. Mohon doanya, dan juga the magic word-nya ya mama....
Kamis, 14 Oktober 2010
Mandi Sungai...
Mandi sungai sekarang ini jadi ritual wajib saban hari Sabtu. Tak hanya mandi, kami juga membawa bekal untuk makan siang. sungai-sungai itu terletak di kawasan arah belakang rumah kami. SEdikitnya ada 7 sungai yang mengalir di sana, sebelum akhirnya kita menemukan air terjun.
Airnya jernih dan batunya besar-besar. Suasananya alami sekali. Tetapi, beberapa pekan terakhir, ada beberapa truk yang datan guntuk mengambil batu sungai. Uh, sebel! Jadi kami banyak kehilangan batu-batu. Kata mama, batu-batu itu diambil untuk pembangunan rumah, jalan dan lain-lain. Oh, kenapa pembangunan harus merusak lingkungan ya. Kalau sekarang diambil terus, nanti kalau kami besar, batu-batunya habis dong...aduh, kok manusia-manusia dewasa tidak berpikir untuk masa depan generasi mendatang...aduh....
We're Back !
Hai..hai....
kami kembali lagi setelah lama menghilang. Maklum, mama sang admin sok sibuk hihihi, jadi ya berita-breita kami nggak di-up date deh jadinya. Sekarang, mama sibuk juga sih, tapi mama akan tetap meluangkan waktunya. Karena blog ini akan jadi lembaran sejarah hidup kami ke depan...
Oya, sekarang kami sudah tinggal di kaki bukit barisan di kawasan Kuta Malaka, Aceh Besar. Banyak cerita-cerita yang akan kami bagi. Soalnya, rumah lokasi rumah kami seru loh...liat aja foto kami berenang di sungai di dekat rumah. Sekarang ini, saban sabtu menjadi ritual untuk mandi sungai...sik asyik.... belum lagi mandi di kolam air terju di dekat rumah...duh..sedapnye....
Kamis, 25 Juni 2009
Selamat Jalan Atok...
Senin, 23 Maret 2009
Kembali ke Medan..
Mama memutuskan kembali ke Medan. Tentu saja kami sedih, karena harus berpisah dengan teman-teman yang lucu-lucu. Harus berpisah dengan Bli Yani, Mo, Lelia, Jasmine, Eliana, Bodhi, Putu Novi, Radit, Ibu Liz yang saban sore ngajakin walking...duh,,,tapi memang mama memang sudah final memutuskan untuk kembali ke Medan. Nanti deh, kami ceritain kenapa mama memilih balik ke Medan. Tapi yang paling buat sedih harus pisah sama papa, karena papa tetap tinggal di Bali...hiks...
Jumat, 02 Januari 2009
Selamat Tahun Baru Hijriah 1429 dan Masehi 2009
Akhirnya, tahun berganti sudah. Tahun baru lalu kami masih di Banda Aceh. Dan kini, kami sudah di Ubud, Bali. Sebuah perjalanan yang panjang dan agak melelahkan, kata mama. Malam tahun baru kemarin, kami merayakannya di kafe Flava -milik Om Noel dan Tante Wina- tetangga sebelah rumah. Tapi Hia, Zee dan mama gak sampai pas pergantian tahunnya. Soalnya, Hia udah bobok deluan, kemudian menyusul Zee, gak ikutan ajojing deh:)). Mama, Hia, Zee dan Hanoman pulang diantar Om Edu, sedangkan papa nggak ikut pulang.
Ramai sekali di Flava, selain teman-teman papa dan mama, juga banyak pengunjung lainnya yang memadati kafe di kawasan Peliatan itu. Pak Will dan temannya nyanyi. Gak tahu deh, apa papa juga ikutan nyanyi setelah kami pulang.
Oya di sana juga ada tante Petra, mamanya Jasmine. Tante Petra temannya papa dan mama yang tinggal di Campuhan. Tante Petra ini direktur IDEP, NGO yang memiliki banyak program di Aceh paska tsunami, khususnya tentang pertanian organik. Waktu natalan, kami diundang ke rumahnya yang asri dan nyeni. Waktu itu, Hia dan Zee dikasih hadiah natal hihihihi, Hia dapat mainan bongkar pasang gedung bertingkat yang ada tempat parkirnya. Sedangkan Zee, dapat kereta api lucu yang punya rel naik turun (mainan ini jadi most wanted di Nyuh Kuning esp.Komplek Keluarga Bu Made Padet yang buat banyak anak menangis huhuh) dan karena begitu seringnya dimainin, sekarang keretanya udah rusak...huuhuhu...
Di tempat baru kami ini, kami memang banyak menemukan keberagaman. Mulai dari suku yang berbeda, sampai agama dan juga bangsa. Kalau dulu di Aceh, mayoritas muslim. Jadi, kami hanya terbiasa dengan hari-hari besar Islam. Kalau di sini, campur aduk. Misalnya kayak beberapa bulan lalu, Hindu Bali merayakan Galungan. Wah, rame sekali. Banyak barong yang dimainkan anak-anak keliling rumah. Hiasan-hiasan penjor juga menghiasa seluruh rumah umat Hindu di Bali. Ramai sekali. Kemudian masuk Ramdhan dan Lebaran. Di Gianyar dan Denpasar, terasa juga gaungnya, karena setelah Hindu Bali, Islam merupakan agama terbesar nomor dua di Bali. Tapi kalau di Ubud...hihihih, gak ada bau-baunya deh, meski punya satu tetangga yang juga muslim. Pas natalan baru rame lagi. Karena Ibu Robin buat open house.Wuih, yang datang ramai sekali. Kami juga dapat hadiah natal.
Kata mama dan papa, keberagaman itu penting. Jadi, kita lebih toleran dan empati pada orang lain, dan nggak merasa paling benar di dunia ini. Keberagaman itu juga mengajari kita banyak hal. ....
Selamat tahun baru ya, nanti ceritanya disambung...
Selasa, 21 Oktober 2008
Horeee, Mama Sudah Bisa Kerja Dari Rumah
Akhirnya..setelah malang melintang saban hari dari Nyuh Kuning ke Sanggingan dalam tempo 5 bulan terakhir ini, sekarang mama bisa bernafas lega. Pasalnya, mama sudah diizinkan kerja dari rumah. Duh, betapa senangnya kami..tak terhingga...(tepuk tangan dong Zayyan dan Hia....) mama bisa mengerjakan naskah-naskah dari rumah. Hanya sesekali saja ke Jungle Run untuk melihat gambar yang sudah dicapture untuk ditranskrip....uhhhhhhhhhhhhh senang sekaliiiiiii
Bisa kesampaian deh cita-cita mama ikut yoga di sebelah rumah. Renang bareng hia dan zee di pool yang juga dekat rumah, bisa...pokoknya semua cita-cita dan keinginan mama yang belum kesampaian setelah tinggal di Ubud- heart of Bali gitu loh (kata mama) heheheh
Ternyata, doa mama cepat sekali dikabulkan. Terimakasih ya Auloh...Kau memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...Amien.
Selasa, 16 September 2008
Hia Ultah ke-3
Happy Birthday to Hia....begitu tulisan di cake coklat yang dibawa mama dan papa sore kemarin. Soanya, Hia 15 September 2008 ini genap berusia 3 tahun. "Wah, gak terasa anak mama sudah gede, ya," kata mama. Waktu ditanya mau jadi apa, Hia menjawab, "Jadi Power Rangers." heheeh, semoga Hia memang bisa jadi pahlawan bagi siapapun, khususnya bagi mereka yang lemah dan memang harus dibela.
Suasana perayaan ultah Hia, terbilang sederhana tapi khidmat loh. Papa, mama, om mija, zayyan plus Hia masuk ke salah satu kamar. Tiup lilin, potong kue sambil nyanyi selamat ulang tahun.
Tidak seperti ulta sebelumnya seperti di Banda Aceh dulu yang agak ramai karena ada oma dan juga om-om lainnya. Tapi, Hia senang. Dapat kado dari Mo cs berupa bubble yang dibawa grandma-nya dari Amerika. Kado mama dan papa cake ultah, karena Hia cuma minta itu. Tapi mama sedang mau pesan mainan dari toko online anak-anak. Biar telat yang penting ada hehehe.
Ultah Hia hari ini jadi ingatin mama pada masa 3 tahun silam waktu melahirkan Hia secara normal. Sebenarnya dari tanggal yang sudah diperkirakan, kelahiran Hia rada telat sekitar 2 minggu gitu. Atok dan nenek juga sudah diterbangkan mama dari Medan ke Banda Aceh seminggu sebelumnya buat berjaga-jaga. Maklumlah, waktu itu paska tsunami belum genap 1 tahun, jadi memang semuanya masih rada darurat.
Sekitar jam 1 siang tanggal 14 September, mama mendapat tanda akan melahirkan. Segera mama dilarikan papa dan nenek dengan mobil jeep ke Klinik Putro Phang, klinik tempat praktek dokter yang memeriksa mama saban bulan. Oya, waktu itu oma juga sudah balik dari Yogyakarta.
Setiba di klinik, mama diperiksa bidan dan ternyata mama sudah bukaan 1. Setelah itu mama diminta untuk jalan-jalan di sekitar klinik supaya proses melahirkannya gampang. Oya klinik ini baru direhab setelah terkena tsunami. Meski tidak parah, tapi air tsunami juga mencapai kawasan klinik yang berada di Lampineng ini.
Singkat cerita, walau sudah hampir 5 jam menunggu, tidak ada tanda-tanda bukaan selanjutnya...mama kemudian diberi infus. Menjelang malam, tetangga dekat juga keluarga oma Evi mengunjungi mama dan memberikan support. Bahkan om Kiki -anaknya oma Evi yan gpaling tua- turut membacakan doa dan memberikan air agar melahirkannya mama gampang. ATok juga memberikan doa nabi Yusuf ketika berada di perut ikan. Pokoknya semua usaha dilakukan agar proses melahirkan Hia mlus.
Tapi sampai tengah malam, Hia belum juga mau brojol. Infus mama sudah mau dua botol dan bukaan mama masih bukaan 3. Ups. Sementara mama terus meradang menahan kontraksi di perutnya. Duh.
Menjelang subuh juga belum ada tanda-tanda. Dokter pengganti yang memeriksa -karena dokter yang biasa memeriksa mama lagi ke Jerman- memprediksikan Hia akan lahir subuh.
Sudah hampir tengah hari pada tanggal 15 September 2005, tapi Hia masih keukeuh di rahim. Teman-teman dekat mama mulai berdatangan. Mama semakin kesakitan. Infus sudah 3 botol. Dokter memeriksa mama lagi dan bukaan masih tetap bukaan 3. Dokter yang memeriksa mama bilang, kalau sampai sore kondisinya masih begitu, baiknya dioperasi saja dan harus dirujuk ke RS Kesdam, karena di klinik tak ada peralatan. Karena detak jantung Hia semakin lemah.
Sementara itu, teman-teman wartawan mama sibuk melakukan liputan karena tepat tanggal 15 September 2005, merupakan momentum penyerahan senjata GAM ke pemerintah RI yang difasilitasi oleh Aceh Monitoring Mission (AMM) sebagai lanjutan dari perjanjian damai yang dilakukan GAM-RI di Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Kembali ke mama. Sekitar pukul 14.00 WIB, maam mengalami kontraksi yang hebat. Ketika diperiksa bidan, mama sudah bukaan 7, kemudian 8, kemudian 9 dan mama segera dilarikan ke ruang bersalin. Sang dokter -yang ternyata ketiduran sehabis pulang mengajar di Unsyiah- segera ditelfon untuk datang.
Pesalinan mama ditolong bidan dan tak berapa lama doter datang. Ternyata penyebab Hia tak bisa keluar karena terlilit tali pusar. Jadi semakin mama mengejan semakin Hia terhisap ke dalam. Mau dilarikan ke RS Kesdam tak ada lagi waktu (karena dokernya ketiduran untuk membawa mama ke RS). Akhirnya dengan segenap kekuatan mama, dengan pertolongan Allah dan papa juga mengabadikan kelahiran itu lewat kamera, Hia akhirnya lahir dengan berat badan 3 kg dan panjang 50 cm, sehat wal afiat.
Mama nyaris kehabusan nafas karena mama terpaksa memakai bantuan nafas buatan. Di ruang bersalin, mama ditemani papa dan juga oma, sementara nenek salat dan berdoa di ruang sebelah. Nenek tak kuat melihat mama yang menahan kesakitan.
Ketika lahir, setelah dibersihkan, Hia diazankan papa. Kemudian menyusu ke mama. Duh, hia pintar sekali menyusunya dan ASI mama juga lancar.
Teman-teman mama bilang, "Duh, dasar anak wartawan. Lahirnya aja milih momen penyerahan senjata GAM. Udah, dikasih nama Hari Senja aja, alias Hari Penyerahan Senjata." Langsung saja mama menolak tawaran nama itu. Hehehehe. karena papa sudah menyiapkan nama, Hiawatha Quake Montgomery....
Happy Birthday Hiawatha......
Jumat, 12 September 2008
Kami Menemukan Kunang-kunang...
Seharusnya tulisan ini diposting dua minggu. Tapi, biasa deh, mama sibuk terus. Jadi, telat deh. Ceritanya, waktu kami pulang dari Denpasar sekitar jam 7 malam, om mija menemukan kunang-kunang di teras rumah. Terang saja kami melonjak kegirangan. Selain serangga kecil itu terlihat lucu dan aneh karena mengeluarkan lampu dari perutnya, juga karena -kata mama- sudah bertahun-tahun mama tak melihatnya. "Mungkin terakhir melihatnya waktu mama SMP," kata mama. Waktu Hia mau menangkap kunang-kunang itu, mama melarang. "Kasihan, nanti kalau dicariin sama mama kunang-kunang, gimana. Biarkan saja dia terbang lagi, kunang-kunangnya mau pulang, mau bobok," begitu kata mama. Dengan berat hati, kunang-kunangnya kami lepas.
Ketika terbang, dia terus berkelap-kelip. Lucu dan indah deh.
Tahu tidak, ternyata, cahaya kelap kelip dari tubuh kunang-kunang yang menghiasi langit malam digunakan pejantan untuk menarik betinanya, seperti halnya burung merak jantan menggoda sang betina dengan bulu-bulu moleknya. Demikian diungkapkan para ilmuwan dalam journal Behavioral Ecology edisi terbaru.
Dalam artikel Koran Kompas yang kami baca, juga disebutkan, Kunang-kunang jantan yang mampu mengeluarkan sinar dalam waktu lebih lama akan mendapat kesempatan "berkencan" lebih banyak, dan akhirnya akan cenderung menghasilkan keturunan lebih banyak pula. Serangga ini juga menunjukkan frekuensi seksual yang tinggi dalam masa dewasanya, seperti halnya burung, rusa atau manusia.
Uniknya lagi, masing-masing spesies kunang-kunang memiliki cahaya yang berbeda yang membedakan mereka berkomunikasi, seperti halnya manusia mempunyai dialek yang berlainan. Perbedaan itu tidak hanya terdapat pada spesies, namun juga pada individu.
Temuan lain yang cukup menarik adalah kunang-kunang betina yang kawin dengan kunang-kunang jantan yang bercahaya kuat akan memiliki lebih banyak keturunan. Hal itu membuahkan kesimpulan bahwa pancaran cahaya yang kuat berbanding lurus dengan nutrisi yang dimiliki kunang-kunang.
Kunang-kunang hidup sebagai larva selama dua tahun. "Pada tingkatan ini, larva hidup hanya untuk makan. Mereka makan dan tumbuh makin besar selama dua tahun," papar Lewis. "Setelah itu mereka akan berubah menjadi kunang-kunang dewasa selama dua minggu untuk kawin dan bertelur. Setelah masa indah yang sangat singkat tersebut kunang-kunang akan mati. (data dan foto tentang kunang-kunang diambil mama dari Koran Kompas edisi 22 April 2003)
Minggu, 31 Agustus 2008
Bulan depan ultah perkawinan mama dan papa yang ke-4 loh
Sabtu, 30 Agustus 2008
Zayyan Ultah ke-1
Senin, 11 Agustus 2008
Cihui....kring..kring...goes..goes...
Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, aku punya sepeda baru...senang sekali...
Mama dan papa membelikanku akhir Juli lalu. Kata mama, sepeda ini dibelikan untuk memperingati Hari Anak yang jatuh pada tanggal 23 juli . Model sepedanya kayak sepeda motor yang suka dipakai motor cross gitu ya. Sebenarnya mama gak setuju dengan model ini, karena agak mahal (hihihi) tapi papa tetap keukeuh dengan segala argument. Jadilah sepeda dengan merk Wim Cycle ini dibeli juga akhirnya di Pasar Gianyar.
Selain sepeda, aku juga dibelikan helm kecil. Lucu ya...Oya, aku masih belajar nih, karena belum sempurna mendayung sepeda dengan roda bantu ini. Saban hari aku terus latihan, kalau nggak di halaman depan dan samping rumah, biasanya aku berlatih sepeda di lapangan bola dekat rumahku. Ini beberapa gayaku usai latihan naik sepeda dengan om Mija.
Jumat, 11 Juli 2008
Cari Sembilan Perbedaan...
Ketika difoto mama, Hia kira-kira berusia 10 bulan. Waktu itu kami masih tinggal di Blower, Banda Aceh. Sedangkan foto Zayyan difoto mama beberapa hari lalu di rumah kami di Ubud. Usia Zayyan sekarang 10 bulan lebih sedikit. Kata orang-orang, kalau difoto kami seperti anak kembar :)...nah sekarang cari sembilan perbedaan deh di foto ini :))
keterangan foto:
kiri : zayyan kanan :hia
Kamis, 10 Juli 2008
teman-teman baru kami
Sejak tinggal di Nyuh Kunig, Ubud, Bali, kami punya banyak teman dari berbagai daerah dan negara lain. Selain teman-teman yang asli Bali, banyak juga yang berasal dari Sumbawa, seperti Eliana, kemudian Puteri dari Flores. Sedangkan Jasmine, Lelyana, Hanifah dan Mo, ibunya orang Amerika bapaknya Jawa. Tetangga kami yang lainnya, Body. Bapak Body orang Amerika dan ibunya orang Bandung. Ini sebagian foto-foto teman baru kami. Kalau bermain, terkadang kami suka bertengkar, berebut mainan, tapi bertengkarnya nggak lama-lama karena setelah itu kami baikan lagi :).
Selasa, 08 Juli 2008
next month...
tidak terasa satu bulan lagi aku berusia satu tahun loh, tepatnya tanggal 29 Agustus nanti....wah, ternyata aku merayakan ultah pertamaku di Bali. Doakan ya semoga aku diberi kesehatan dan umur yang panjang.....oya, di usiaku yang mau satu tahun ini, aku sudah punya 3 gigi, sudah mulai merayap dan nyaris berdiri...udah bisa kasih tahu mama kalau aku lihat cicak di dinding hihihihi, juga udah bisa protes kalau mama nggak mau gendong aku hahahaaaa

breastfeeding...
sejak Hia lahir pada 15 September 2005 lalu, mama nyaris tidak lepas dari aktifitas breastfeeding, menyusui. Ketika mama mengandung Zayyan, Hia tetap nyusu meski waktu itu ASI mama nggak ada. Susah sekali menyapih Hia. Karena mama nggak tega melihatnya nangis nggak karu-karuan, jadilah Hia tetap ngempeng. Pas lahir Zayyan, Hia tetap ikut nyusu juga. Malah sekarang tambah asyik karena ada ASI-nya :))
Bayangin, sekarang mama menyusukan kami berdua. Alhamdulillah, ASI mama cukup untuk kami berdua. Zayyan ASI eksklusif lagi. Sekarang, walaupun mama ngantor, tetap memberikan ASI-nya yang sudah dipompa dan disimpan di freezer. Jadi Zayyan tidak minum susu formula.
Semoga ASI mama teap banyak dan lancar. Oya, coba kita hitung yuk, sudah berapa lama mama melakoni pemberian ASI ini....

Senin, 07 Juli 2008
papa
Karena kami lagi kangen-kangennya sama papa, kami posting tentang papa aja deh. Papa kami seorang freelance cameraman. Sebelum memulai karirnya jadi cameraman, papa seorang penyiar di Radio Flamboyan FM di Banda Aceh. Udah gitu, papa jadi penyiar berita sekaligus reporter di TVRI Banda Aceh. Pas ketemu mama, papa kemudian sama-sama mama belajar menggunakan kamera. Soalnya waktu itu, mama dikasih kamera VX1000 ama temannya, Tante Dini Djalal yang mau pindah ke Whasington. Kamera ini banyak berperan pada karir papa dan mama selanjutnya. Di penghujung tahun 2003, papa dan mama berhasil mendapatkan beasiswa pembuatan film documenter senilai USD 5500 yang digelar oleh PJTV UI, Internews, In-docs di penghujung tahun 2003. Dalam film ini, mama jadi directornya, papa jadi kameraman, Om Muchtar dan om Haryo serta Pak Horea Salajan jadi editornya.
Filmnya bertajuk 'Politik Teungku'. Bercerita tentang seorang ulama dayah -pesantren tradisional di Aceh- yang berniat jadi anggota parlemen di Aceh Utara dalam Pemilu 2004. Meski turunnya ulama ke kancah politik melahirkan kontroversi, tapi si ulam abersikukuh dengan pemberlakuan Syariat Islam di Aceh, anggota parlemen haruslah mengerti soal-soal mendasar dalam Islam-karena mereka yang akan membuat kebijakan.
Pemilu sebelumnya, nyaris tak digelar di Aceh karena suasana Aceh dalam konflik berkepanjangan paska dicabutnya status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Sementara, Pemilu pada 2004 ini digelar dalam suasana Aceh berstatus darurat militer.
Suasana kampanye dan pemilu berlangsung agak tegang. Seperti ditemukannya bom di lapangan yang sedianya akan digelar kampanye. GAM bahkan buat peratura, para jurkam dilarang masuk desa. Bahkan sebuah bom dilemparkan di sebelah rumah yang hanya berjarak satu pintu dari pesantren tempat ulama tadi mengajar.
Sayangnya, sang ulama tak mendapat kursi, agaknya dia dicurangi. Pasalnya pengumumannya telah lewat 1 bulan dari jadwal yang sudah disepakati. Endingnya, sang ulama kembali menjadi guru di dayahnya. Film ini diputar di Jiffest 2004.
Sembari itu, papa bekerja sebagai kotributor pada TV7 dan kemudian stringer untuk Reuters.
Seminggu papa dan mama menikah, papa harus ke Jakarta. Papa menjadi juru kamera untuk film dokumenter yang dibuat Tante Dini Djalal tentang seorang aktivis yang menjadi leader pada grass root ketika masa kampanye Pemilu Presiden. Sayang, sang tokoh, om Oji sudah tutup usia, tidak lama setelah dirinya kembali dari Aceh. Kedatangan om Oji ke Aceh paska tsunami. Om Oji menjadi volunteer kemanusian dengan teman-temannya dari Universitas Nasional Jakarta.
Kembali ke soal papa. Setahun kemudian, sekitar 3 bulan papa dan mama menikah, bencana tsunami terjadi. Papa dan mama mengabadikan kejadian itu sembari mereka lari dari samping Masjid raya Baiturrahman. Beberapa bulan setelahnya, papa dan mama kembali mendapat tawaran pembuatan film dokumenter 'Children of Tsunami", kerja sama TVE Asia Pasific-Oxfam Novib dan Jungle RUn Production. Mama menjadi researcher dan field director dan papa selain menjadi cameraman juga menjadi researcher Film yang dibuat selama 1 tahun ini bercerita tentang dua gadis kecil, Putri (7) dan Yenni (15). Bagaimana mereka menghadapi hari-hari paska tsunami setelah kehilangan saudara dan juga harta benda akibat tsunami. Putri kehilangan kakaknya yang sedang mengandung 7 bulan, sedangkan Yenni kehilangan 2 adiknya. Putri di Aceh Besar dan Yenni di Meulaboh.
Dari sinilah, papa mulai rutin bekerja untuk Jungle Run Production yang bermarkas di Ubud, Bali. Papa terlibat dalam beberapa project untuk dokumenter BBC, Discovery Chanel. Sembari itu, papa juga bekerja untuk beberapa lembaga internasiona, nasional dan juga lokal. Seperti IFRC, Australia Red Cross, IDLO -papa dan mama membuat film penyuluhan tentang hak-hak perempuan korban tsunami- juga UNICEF. Khusus dalam project UNICEF, papa dan teman-temannya mengajari anak-anak korban tsunami untuk membuat video diary. Film dengan tajuk Aceh's Little Heroes ini kemudian secara khusus mengangkat cerita papa ketika tsunami datang menerjang Aceh. Film ini diputar di BBC, Asia News Chanel dan SCTV untuk memperingati 3 tahun tsunami.
Berkat pekerjaannya juga, papa berhasil mendapatkan beasiswa kursus tentang media ke Ohio University di Amerika selama lebih kurang 2 bulan. Sampai akhirnya, papa ditawari Jungle Run untuk pindah ke Bali.
Papa, we proud of you...
p.s : hiks, katanya papa baru pulang minggu depan karena kebetulan dapat job di Aceh
Akhir Pekan (Masih) Tanpa Papa
Hari Minggu yang garing...
hujan seharian di Ubud. Udara dingin sekali. Rencana jalan-jalan ke pasar Ubud sama mama jadi batal. Kami hanya mengurung diri di kamar. Nonton tivi, makan, tidur, main. Semuanya kami lakukan masih tanpa papa. Telepon terakhir dari papa, katanya akan pulang Kamis ini. Karena setelah dari Brastagi dan Medan, papa melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh. Mengurus beberapa barang yang masih tertinggal (sebenarnya banyak sekali).
Untung pagi tadi sebelum hujan begitu deras, mama, hia dan zayyan belanja ke warung, beli ikan dan sayur mayur. Karena udara dingin sekali, perut terasa cepat lapar. Akhirnya, mama masak 'spageti tuna ala mama'. Ikan tunanya disuwir-suwir setelah digoreng setengah kering, baru dicampur dengan saos pastanya dan ditumis. Supaya lebih bergizi lagi, mama juga memasukkan brokoli. Yummi sekali de...
p.s: sayang zayyan belum bisa makan. jadinya zayyan hanya makan bubur beras merah -organic- yang dicampur dengan wortel, brokoli, kentang dan juga tahu...yummy ...juga...bo..
Langganan:
Postingan (Atom)

