Kamis, 14 Oktober 2010

Mandi Sungai...

Mandi sungai sekarang ini jadi ritual wajib saban hari Sabtu. Tak hanya mandi, kami juga membawa bekal untuk makan siang. sungai-sungai itu terletak di kawasan arah belakang rumah kami. SEdikitnya ada 7 sungai yang mengalir di sana, sebelum akhirnya kita menemukan air terjun. Airnya jernih dan batunya besar-besar. Suasananya alami sekali. Tetapi, beberapa pekan terakhir, ada beberapa truk yang datan guntuk mengambil batu sungai. Uh, sebel! Jadi kami banyak kehilangan batu-batu. Kata mama, batu-batu itu diambil untuk pembangunan rumah, jalan dan lain-lain. Oh, kenapa pembangunan harus merusak lingkungan ya. Kalau sekarang diambil terus, nanti kalau kami besar, batu-batunya habis dong...aduh, kok manusia-manusia dewasa tidak berpikir untuk masa depan generasi mendatang...aduh....

We're Back !

Hai..hai.... kami kembali lagi setelah lama menghilang. Maklum, mama sang admin sok sibuk hihihi, jadi ya berita-breita kami nggak di-up date deh jadinya. Sekarang, mama sibuk juga sih, tapi mama akan tetap meluangkan waktunya. Karena blog ini akan jadi lembaran sejarah hidup kami ke depan... Oya, sekarang kami sudah tinggal di kaki bukit barisan di kawasan Kuta Malaka, Aceh Besar. Banyak cerita-cerita yang akan kami bagi. Soalnya, rumah lokasi rumah kami seru loh...liat aja foto kami berenang di sungai di dekat rumah. Sekarang ini, saban sabtu menjadi ritual untuk mandi sungai...sik asyik.... belum lagi mandi di kolam air terju di dekat rumah...duh..sedapnye....

Kamis, 25 Juni 2009

Selamat Jalan Atok...

Senin (15/6/2009) dinihari sekitar pukul 00.20, Om Amen telepon mama dan bilang atok sudah meninggal. Tentu saja , kami sekeluarga sangat syok dan bersedih. Atok memang punya penyakit gula dan asma. Tapi sebelumnya tidak ada sakit berat. Terus terang, kepergiannya jadi terasa mendadak. Kepergiannya hanya berselisih beberapa hari dari ulang tahunnya yang ke 67 tahun. Minggu pagi, mama ditelpon Bunda Raya. Bunda bilang, kondisi kesehatan atok drop sekali. SEtelah diperiksa oleh tetangga yang ahli medis, Ibu Hur, gula darah atok mencapai 524 dan tekanan darah 80. Kondisi ini menurut Ibu Hur mendekati koma. Nenek disarankan untuk membawa atok ke RS. Waktu Bunda telpon, mama sebenarnya sudah punya feeling, meski berusaha nggak percaya sama feelingnya. Pun begitu, mama saranin ke Bunda agar Om Amen dan Om Abo dikabari segera dan kalau bisa Om Amen diminta pulang dulu dari Jakarta. Minggu siang Om Amen segera berangkat ke Medan dan atok juga segera dilarikan ke RSU Malahayati, Medan. Om Amen sampai sekitar pukul 4 sore. Kondisi atok makin payah. Sekitar pukul 10 malam, atok dipindahkan ke ruang ICU. Ketika nenek, bunda dan yang lain sudah pulang, atok hanya dijaga oleh Om Amen dan Om Hada. Tak berapa lama setelah nenek tiba di rumah, atok menghembuskan nafasnya yang terakhir. Selamat jalan atok. Kami akan sangat merindukanmu. Terakhir kami berjumpa dengan atok seminggu sebelum kejadian. Ketika mama menjemput kami dari rumah atok untuk dibawa ke Banda Aceh, karena papa ada di Banda Aceh. Hampir tiga bulan kami di rumah atok setelah balik dari Bali. Jadi, lumayan juga sebenarnya perjumpaan kami dengan atok. Bahkan dua minggu sebelum kejadian itu, atok sempat-sempatnya bawa kami jalan-jalan dengan mobil Cherokee-nya ke Belawan kemudian tembak langsung ke Polonia. Kami main ATV, makan-makan. Sepertinya atok memang ingin meninggalkan kesan sebelum kepergiannya itu. Atok juga membelikan Zayyan sebuah mic untuk karoke bareng atok. Maklumlah, Zayyan suka sekali nyanyi, meski liriknya cuma...aku....aduh kenangan itu. Atok juga suka membacakan kami buku karangan Enid Blyton berjudul 'Tiga Permintaan' . Di buku itu, ada tokoh bernama Elsye dan Bobby. Kemudian atok menjuluki kami berdua sebagai Elsye dan Bobby. Kalimat yang kuingat jika atok mulai meledek kami kalau lagi bertengkar atau ada salah satau dari kami menangis.. "Elsye, kamu jangan menangis saja," Kata Bobby... Atok...selamat jalan ya, kami doakan semoga atok mendapat tempat yang terbaik. Kami akan merindukan atok. Peluk cium dari kami. Maafkan kami tidak bisa memberi kecupan terakhir, karena ketika kami tiba di Medan dari Banda Aceh, jenazah atok sudah dikebumikan..., sebelum bertolak ke Banda Aceh, kami menziarahi kuburan atok...selamat jalan atok..

Senin, 23 Maret 2009

Kembali ke Medan..

Mama memutuskan kembali ke Medan. Tentu saja kami sedih, karena harus berpisah dengan teman-teman yang lucu-lucu. Harus berpisah dengan Bli Yani, Mo, Lelia, Jasmine, Eliana, Bodhi, Putu Novi, Radit, Ibu Liz yang saban sore ngajakin walking...duh,,,tapi memang mama memang sudah final memutuskan untuk kembali ke Medan. Nanti deh, kami ceritain kenapa mama memilih balik ke Medan. Tapi yang paling buat sedih harus pisah sama papa, karena papa tetap tinggal di Bali...hiks...

Jumat, 02 Januari 2009

Selamat Tahun Baru Hijriah 1429 dan Masehi 2009

Akhirnya, tahun berganti sudah. Tahun baru lalu kami masih di Banda Aceh. Dan kini, kami sudah di Ubud, Bali. Sebuah perjalanan yang panjang dan agak melelahkan, kata mama. Malam tahun baru kemarin, kami merayakannya di kafe Flava -milik Om Noel dan Tante Wina- tetangga sebelah rumah. Tapi Hia, Zee dan mama gak sampai pas pergantian tahunnya. Soalnya, Hia udah bobok deluan, kemudian menyusul Zee, gak ikutan ajojing deh:)). Mama, Hia, Zee dan Hanoman pulang diantar Om Edu, sedangkan papa nggak ikut pulang. Ramai sekali di Flava, selain teman-teman papa dan mama, juga banyak pengunjung lainnya yang memadati kafe di kawasan Peliatan itu. Pak Will dan temannya nyanyi. Gak tahu deh, apa papa juga ikutan nyanyi setelah kami pulang. Oya di sana juga ada tante Petra, mamanya Jasmine. Tante Petra temannya papa dan mama yang tinggal di Campuhan. Tante Petra ini direktur IDEP, NGO yang memiliki banyak program di Aceh paska tsunami, khususnya tentang pertanian organik. Waktu natalan, kami diundang ke rumahnya yang asri dan nyeni. Waktu itu, Hia dan Zee dikasih hadiah natal hihihihi, Hia dapat mainan bongkar pasang gedung bertingkat yang ada tempat parkirnya. Sedangkan Zee, dapat kereta api lucu yang punya rel naik turun (mainan ini jadi most wanted di Nyuh Kuning esp.Komplek Keluarga Bu Made Padet yang buat banyak anak menangis huhuh) dan karena begitu seringnya dimainin, sekarang keretanya udah rusak...huuhuhu... Di tempat baru kami ini, kami memang banyak menemukan keberagaman. Mulai dari suku yang berbeda, sampai agama dan juga bangsa. Kalau dulu di Aceh, mayoritas muslim. Jadi, kami hanya terbiasa dengan hari-hari besar Islam. Kalau di sini, campur aduk. Misalnya kayak beberapa bulan lalu, Hindu Bali merayakan Galungan. Wah, rame sekali. Banyak barong yang dimainkan anak-anak keliling rumah. Hiasan-hiasan penjor juga menghiasa seluruh rumah umat Hindu di Bali. Ramai sekali. Kemudian masuk Ramdhan dan Lebaran. Di Gianyar dan Denpasar, terasa juga gaungnya, karena setelah Hindu Bali, Islam merupakan agama terbesar nomor dua di Bali. Tapi kalau di Ubud...hihihih, gak ada bau-baunya deh, meski punya satu tetangga yang juga muslim. Pas natalan baru rame lagi. Karena Ibu Robin buat open house.Wuih, yang datang ramai sekali. Kami juga dapat hadiah natal. Kata mama dan papa, keberagaman itu penting. Jadi, kita lebih toleran dan empati pada orang lain, dan nggak merasa paling benar di dunia ini. Keberagaman itu juga mengajari kita banyak hal. .... Selamat tahun baru ya, nanti ceritanya disambung...

Selasa, 21 Oktober 2008

Horeee, Mama Sudah Bisa Kerja Dari Rumah

Akhirnya..setelah malang melintang saban hari dari Nyuh Kuning ke Sanggingan dalam tempo 5 bulan terakhir ini, sekarang mama bisa bernafas lega. Pasalnya, mama sudah diizinkan kerja dari rumah. Duh, betapa senangnya kami..tak terhingga...(tepuk tangan dong Zayyan dan Hia....) mama bisa mengerjakan naskah-naskah dari rumah. Hanya sesekali saja ke Jungle Run untuk melihat gambar yang sudah dicapture untuk ditranskrip....uhhhhhhhhhhhhh senang sekaliiiiiii Bisa kesampaian deh cita-cita mama ikut yoga di sebelah rumah. Renang bareng hia dan zee di pool yang juga dekat rumah, bisa...pokoknya semua cita-cita dan keinginan mama yang belum kesampaian setelah tinggal di Ubud- heart of Bali gitu loh (kata mama) heheheh Ternyata, doa mama cepat sekali dikabulkan. Terimakasih ya Auloh...Kau memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...Amien.

Selasa, 16 September 2008

Hia Ultah ke-3

Happy Birthday to Hia....begitu tulisan di cake coklat yang dibawa mama dan papa sore kemarin. Soanya, Hia 15 September 2008 ini genap berusia 3 tahun. "Wah, gak terasa anak mama sudah gede, ya," kata mama. Waktu ditanya mau jadi apa, Hia menjawab, "Jadi Power Rangers." heheeh, semoga Hia memang bisa jadi pahlawan bagi siapapun, khususnya bagi mereka yang lemah dan memang harus dibela. Suasana perayaan ultah Hia, terbilang sederhana tapi khidmat loh. Papa, mama, om mija, zayyan plus Hia masuk ke salah satu kamar. Tiup lilin, potong kue sambil nyanyi selamat ulang tahun. Tidak seperti ulta sebelumnya seperti di Banda Aceh dulu yang agak ramai karena ada oma dan juga om-om lainnya. Tapi, Hia senang. Dapat kado dari Mo cs berupa bubble yang dibawa grandma-nya dari Amerika. Kado mama dan papa cake ultah, karena Hia cuma minta itu. Tapi mama sedang mau pesan mainan dari toko online anak-anak. Biar telat yang penting ada hehehe. Ultah Hia hari ini jadi ingatin mama pada masa 3 tahun silam waktu melahirkan Hia secara normal. Sebenarnya dari tanggal yang sudah diperkirakan, kelahiran Hia rada telat sekitar 2 minggu gitu. Atok dan nenek juga sudah diterbangkan mama dari Medan ke Banda Aceh seminggu sebelumnya buat berjaga-jaga. Maklumlah, waktu itu paska tsunami belum genap 1 tahun, jadi memang semuanya masih rada darurat. Sekitar jam 1 siang tanggal 14 September, mama mendapat tanda akan melahirkan. Segera mama dilarikan papa dan nenek dengan mobil jeep ke Klinik Putro Phang, klinik tempat praktek dokter yang memeriksa mama saban bulan. Oya, waktu itu oma juga sudah balik dari Yogyakarta. Setiba di klinik, mama diperiksa bidan dan ternyata mama sudah bukaan 1. Setelah itu mama diminta untuk jalan-jalan di sekitar klinik supaya proses melahirkannya gampang. Oya klinik ini baru direhab setelah terkena tsunami. Meski tidak parah, tapi air tsunami juga mencapai kawasan klinik yang berada di Lampineng ini. Singkat cerita, walau sudah hampir 5 jam menunggu, tidak ada tanda-tanda bukaan selanjutnya...mama kemudian diberi infus. Menjelang malam, tetangga dekat juga keluarga oma Evi mengunjungi mama dan memberikan support. Bahkan om Kiki -anaknya oma Evi yan gpaling tua- turut membacakan doa dan memberikan air agar melahirkannya mama gampang. ATok juga memberikan doa nabi Yusuf ketika berada di perut ikan. Pokoknya semua usaha dilakukan agar proses melahirkan Hia mlus. Tapi sampai tengah malam, Hia belum juga mau brojol. Infus mama sudah mau dua botol dan bukaan mama masih bukaan 3. Ups. Sementara mama terus meradang menahan kontraksi di perutnya. Duh. Menjelang subuh juga belum ada tanda-tanda. Dokter pengganti yang memeriksa -karena dokter yang biasa memeriksa mama lagi ke Jerman- memprediksikan Hia akan lahir subuh. Sudah hampir tengah hari pada tanggal 15 September 2005, tapi Hia masih keukeuh di rahim. Teman-teman dekat mama mulai berdatangan. Mama semakin kesakitan. Infus sudah 3 botol. Dokter memeriksa mama lagi dan bukaan masih tetap bukaan 3. Dokter yang memeriksa mama bilang, kalau sampai sore kondisinya masih begitu, baiknya dioperasi saja dan harus dirujuk ke RS Kesdam, karena di klinik tak ada peralatan. Karena detak jantung Hia semakin lemah. Sementara itu, teman-teman wartawan mama sibuk melakukan liputan karena tepat tanggal 15 September 2005, merupakan momentum penyerahan senjata GAM ke pemerintah RI yang difasilitasi oleh Aceh Monitoring Mission (AMM) sebagai lanjutan dari perjanjian damai yang dilakukan GAM-RI di Helsinki pada 15 Agustus 2005. Kembali ke mama. Sekitar pukul 14.00 WIB, maam mengalami kontraksi yang hebat. Ketika diperiksa bidan, mama sudah bukaan 7, kemudian 8, kemudian 9 dan mama segera dilarikan ke ruang bersalin. Sang dokter -yang ternyata ketiduran sehabis pulang mengajar di Unsyiah- segera ditelfon untuk datang. Pesalinan mama ditolong bidan dan tak berapa lama doter datang. Ternyata penyebab Hia tak bisa keluar karena terlilit tali pusar. Jadi semakin mama mengejan semakin Hia terhisap ke dalam. Mau dilarikan ke RS Kesdam tak ada lagi waktu (karena dokernya ketiduran untuk membawa mama ke RS). Akhirnya dengan segenap kekuatan mama, dengan pertolongan Allah dan papa juga mengabadikan kelahiran itu lewat kamera, Hia akhirnya lahir dengan berat badan 3 kg dan panjang 50 cm, sehat wal afiat. Mama nyaris kehabusan nafas karena mama terpaksa memakai bantuan nafas buatan. Di ruang bersalin, mama ditemani papa dan juga oma, sementara nenek salat dan berdoa di ruang sebelah. Nenek tak kuat melihat mama yang menahan kesakitan. Ketika lahir, setelah dibersihkan, Hia diazankan papa. Kemudian menyusu ke mama. Duh, hia pintar sekali menyusunya dan ASI mama juga lancar. Teman-teman mama bilang, "Duh, dasar anak wartawan. Lahirnya aja milih momen penyerahan senjata GAM. Udah, dikasih nama Hari Senja aja, alias Hari Penyerahan Senjata." Langsung saja mama menolak tawaran nama itu. Hehehehe. karena papa sudah menyiapkan nama, Hiawatha Quake Montgomery.... Happy Birthday Hiawatha......

twinkle twinkle little star